Sabtu, 14 Mei 2016

Jalin Silaturahmi dalam Tradisi Budaya Masyarakat

    

     Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dan hidup dalam tradisi budaya masyarakat warisan leluhurnya. Oleh karena itu, penting bagi setiap manusia, generasi islam untuk menjalin silaturahmi atau silaturahim yang baik dengan orang lain. Jangan kita mengikuti nafsu semata yang berakibat terputusnya tali silaturahmi. Banyak orang yang memutuskan tali silaturahmi/silaturahim sesama muslim. Mereka tidak memikirkan akibat dari memutuskan tali silaturahmi/silaturahim. kita sering mendengar atau melihat sesama saudara sendiri tidak saling menyapa bahkan sampai bertengkar. Mungkin karena sifat egonya tinggi , mereka tidak bersedia  untuk mengalah, meminta maaf terlebih dahulu, sehingga kadang pertengkaran mereka sampai ke anak turunannya.
     Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan berbuat baik pada sesama manusia, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An-Nisa’: 36).
     Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menerangkan bahwa silaturahmi/
silaturahim merupakan pertanda keimanan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bersilaturahmi,” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).
     Apabila  kita dapat menjaga tali persaudaraan maka akan berdampak baik bagi diri kita. Perhatikan hadits berikut, yakni dari Anas r.a., ia berkata, bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda, “Barangsiapa yang menyukai untuk mendapatkan kelapangan rezeki dan panjang umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan dengan saudaranya (silaturahmi).” (HR. Bukhari dan Muslim).
     Mendapatkan kelapangan rezeki dapat dipahami bahwa orang yang suka menjalin silaturahmi itu akan mempunyai banyak teman, kenalan, atau bahkan orang lain yang bisa menjadi dekat seperti saudara. Orang yang senang dalam menjalin silaturahmi akan mempunyai banyak relasi. Ia akan menemukan banyak kemudahan ketika melakukan sebuah usaha. Dengan demikian, rezekinya pun menjadi lapang.Dalam ayat tersebut sudah membuktikan, bahwa apa yang Allah
Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita akan memberikan hikmah bagi kehidupan kita, dan mendapat pahala yang akan di berikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita.
     Dalam kehidupan sosial, banyak cara bagi kita untuk menjalin silaturahmi/
silaturahim, ditengah-tengah kehidupan  masyarakat dengan kultur atau budaya yang berbeda-beda dan beragam.Sebagaimana yang dicontohkan oleh para leluhur kita, dengan melakukan tradisi-tradisi budaya mengumpulkan orang-orang dalam satu kegiatan, sehingga tercipta interaksi antar warga, yang belum kenal menjadi kenal, yang sudah kenal akan lebih mengenal dan akrab, sehingga yang secara tidak langsung menjalin tali silaturahmi/silaturahim.
     Kita, sebagai generasi islam sebaiknya menyikapi dan memahami segala tradisi, budaya leluhur yang ada di masyarakat dengan arif dan bijaksana. Karena didalam kegiatan tersebut, para walisongo, penyebar syiar ajaran islam, telah memasukkan ajaran islam kedalam tradisi budaya masyarakat yang saat itu bertentangan dengan ajaran islam. Banyak moment –moment islam yang bertepatan dengan tradisi atau budaya masyarakatt, seperti acara “Kupatan - Nisfu Sya’ban”, yang pelaksanaannya bertepatan dengan Malam Nisfu Sya’ban, atau moment-moment keislaman lainnya. Dengan toleransi, kita bisa menjalin tali silaturahmi/
silaturahim dengan masyarakat sekitar melalui tradisi budaya yang telah diwariskan oleh leluhur .