Sabtu, 30 April 2016

Haruskah Kita Miskin ?

"Apakah kemiskinan itu?"
"Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apapun untuk diberikan kepada orang lain, baik itu wujud material maupun bukan material."
     Ironisnya, secara umum Kemiskinan menjadi bahan permasalahan yang prioritas dalam suatu pembangunan perekonomian suatu bangsa. Berbagai cara hampir dilakukan manusia untuk memenuhi perutnya, entah dengan cara apa manusia itu mengisi perutnya. Akibatnya menusia berusaha menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan sesuap nasi, bahkan demi mendapatkan sebatang rokok. Berbagai permasalahan timbul dengan sendirinya akibat maraknya kemiskinan yang terus menonjolkan tingkat angka kemiskinan di berbagai negara, khususnya negara kita Indonesia. Pencurian, kekerasan, pembunuhan bahkan, harga diri pun rela di jual untuk memenuhi anggota badan bagian tengahnya. Dan itu semua adalah sudah sangat jelas bentuk “Keharamannya”. Sedangkan Allah memerintahkan kita untuk mencari rezeki yang halal dan baik.
     Pada umumnya pernyataan
menjadi orang miskin adalah suatu kehinaan, karena orang miskin itu tidak mempunyai apa-apa, karena orang miskin itu lemah, dan karena miskin itu tersingkirkan. Itu semua adalah salah dan belum tentu sesuai dengan realta yang ada. Orang miskin mampu menjadi dermawan, orang miskin mampu menjadi kaya, orang miskin mampu menjadi kuat. Persoalan ini bukan masalah banyak atau sedikitnya harta yang kita miliki sebagai manusia, melainkan seberapa besar rasa Tawakkal, qona’ah atas apa yang telah Allah berikan kepada kita. Allah tidak pernah melarang hambanya menjadi orang sangat kaya raya, sangat berkecukupan, akan tetapi sebenarnya Allah menitipkan harta itu kepada beberapa manusia, untuk menolong sesama manusia. Zakat, shodaqoh, dan infaq menjadi jembatan bagi para orang berkecukupan tersebut.
     Allah menciptakan segala sesuatunya secara berpasangan, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :


وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا
Artinya :"dan Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis."
(QS. An-Najm:43)


ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻣَﺎﺕَ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ
Artinya : "dan Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan."
(QS. An-Najm:44)


ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﻴْﻦِ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮَ ﻭَﺍﻟْﺄُﻧﺜَﻰ
Artinya : "dan Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. "
(QS. An-Najm:45)


ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﻭَﺃَﻗْﻨَﻰ
Artinya : "dan Dia-lah yang memberikan kekayaan dan kecukupan."
(QS. An-Najm:48)


Dan perhatikan pada Al-Quran Surat An-Najm : 48, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan kekayaan dan kecukupan, bukan kekayaan dan kemiskinan.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya memberikan kekayaan dan kecukupan kepada hamba-hamba Nya bukan kemiskinan seperti yang telah kita sangkakan.
استغفرالله العظيم , Ternyata yang menciptakan kemiskinan adalah diri kita sendiri. Kemiskinan itu selalu kita bentuk dalam pola pikir kita.
     Itulah hakikatnya, mengapa orang-orang yang pandai bersyukur walaupun hidup cuma pas-pasan tapi ia tetap bisa tersenyum?
Karena ia merasa cukup, bukan merasa miskin seperti kebanyakan orang lainnya
Bukan menjadi permasalahan kita kaya atau miskin, karena Allah tidak memandang dari segi materi. Melainkan Allah menilai seorang hambanya dari iman dan ketaqwaan hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.