Kamis, 02 Juni 2016

Keutamaan 10 Hari Pertama Puasa Ramadhan

     Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,dimana ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :
“Awal bulan Ramadhan adalah Rahmat, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya ‘Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka).”
Dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu Anhu. Diceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Berkhutbah menjelang Ramadan,diantara isi khutbah beliau,
“Siapa saja yang memberi buka kepada orang yang shaum dengan seteguk susu, sebiji kurma, atau seteguk air, dan siapa yang mengenyangkan orang shaum maka ALLAH akan memberi minum dari telaga dengan satu tegukan, yang menyebabkan tidak haus sampai masuk surga. Inilah bulan, yang awalnya adalah Rahmat, Pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya ‘Itqun Minan nar (pembebasan dari api neraka). Perbanyaklah melakukan 4 hal dalam bulan Ramadan”
     10 hari pertama di bulan ramadhan adalah awal yang cukup melelahkan dan tentunya kita berusaha beradaptasi dengan penuh kesabaran untuk melaksanakan puasa dan mengerjakan amalan-amalan yang di cintai oleh Allah SWT. Para ulama memaknai sepuluh hari pertama bulan ramadhan sebagai Rahmat,yaitu terbukanya pintu Rahmat Allah SWT, yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang menunaikan puasa.
Dalam khazanah tasawuf Rahmat itu ada dua macam, pertama Rahmah Dzaatiyyah, yaitu Rahmat dan Anugerah yang diberikan Allah SWT kepada semua mahluk-Nya tanpa terkecuali. Kedua Rahmah Khushushiyyah, yaitu Rahmat dan kasih sayang yang Allah SWT hanya diberikan kepada hamba-hamba Pilihan-Nya. Sepuluh hari pertama merupakan keistimewaan karena diturunkannya Rahmat kepada hamba-hamba yang telah ikhlas dan ridha menunaikan puasa ramadhan dengan penuh keimanan kepada Allah SWT.
     Salah satu Rahmat dan kasih sayang Allah SWT yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang berpuasa dengan Iman dan taqwa yaitu disediakan salah satu pintu masuk ke dalam surga yang tidak dilalui oleh siapapun kecuali para ahli puasa.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda:
“Dari Sahal bin Sa’ad Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda “Sesungguhnya di Surga ada salah satu pintu yang dinamakan Rayyan; masuk dari pintu tersebut ahli puasa di hari kiamat, tidak ada yang masuk dari pintu itu selain ahli puasa, lalu diserukan “Manakah para ahli puasa?’, maka berdirilah para ahli puasa dan tak ada seorangpun yang masuk dari pintu itu kecuali mereka yang tergolong para ahli puasa, dan apabila mereka sudah masuk, maka pintu surga tersebut segera tertutup, dan tak ada satupun yang diperbolehkan masuk setelah mereka .”(H.R. Bukhari dan Muslim).

Sabtu, 28 Mei 2016

Amal Ibadah di Bulan Puasa Ramadhan

     Mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan baik-baik adalah amalan yang sangat mulia. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam pernah berpesan :"Akan segera datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala bersama kalian pada bulan itu, maka diturunkanlah rahmat, diampuni dosa-dosa dan dikabulkan do'a dan permintaan. Allah melihat kalian berlomba-lomba dalam kebaikan, lalu diikutkan bersama kalian malaikat-malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan diri kalian, sesungguhnya orang yang rugi adalah mereka yang tidak mendapatkan rahmat Allah".
     Nabi  Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam telah mencontohkan  amal ibadah yang dapat dilakukan pada bulan suci Ramadhan. Berikut ini beberapa sunah ibadah sesuai sunnah Rasululllah.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah (2): 183].

     Sebagian ulama membagi bulan Ramadhan dalam tiga fase,yaitu 10 hari pertama puasa Ramadhan dinamakan terbukanya pintu Rahmat Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang menunaikan shaum, 10 hari kedua atau pertengahan dinamakan Magfirah yaitu di Ampuninya-Nya segala dosa-dosa oleh Allah SWT, dan 10 hari terakhir bulan ramadhan dinamakan pembebasan dari api neraka. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadist Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam’ :
 

     Berikut ini adalah amal ibadah yang dianjurkan selama bulan puasa ramadhan sesuai sunnah Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam:
  1. Menyegerakan Berbuka Puasa
    Apabila telah datang waktu berbuka puasa, hendaklah menyegerakan berbuka, karena didalamnya terdapat banyak kebaikan. Rosulullah SAW bersabda :
    لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ – رواه الشيخان

    “Manusia akan sentiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
  2. Melaksanakan Makan Sahur

    تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِى السَّحُرِ بَرَكَةٌ – الشيخان

    “Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  3. Membaca Al-Qur’an / Tadarus Al-Quran (Tilawah)
    Ayat Al-Qur’an diturunkan pertamakali pada bulan Ramadhan. Maka tak heran jika Rasulullah SAW sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dibandingkan di bulan-bulan lain.
    Imam Az-Zuhri berkata, “Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita selain berpuasa adalah membaca Al-Qur’an.” Bacalah dengan tajwid yang baik dan tadabburi, pahami, dan amalkan isinya. Insya Allah, kita akan menjadi insan yang berkah.

    Buatlah target untuk diri anda sendiri. Jika di bulan-bulan lain kita khatam membaca Al-Qur’an dalam sebulan, maka misalnya di bulan Ramadhan kita bisa memasang target dua kali khatam. Lebih baik lagi jika ditambah dengan menghafal satu juz atau surat tertentu. Hal ini bisa juga dijadikan program unggulan bersama keluarga.
  4. Memberikan Makanan Berbuka Puasa (Ith’amu ath-tha’am)
    مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ اَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ – صحيح النسائى و الترمذى

    “Barang siapa yang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu” (Shahih Nasa’i dan Tirmidzi).

    Amal ibadah mulia ini dapat Anda manfaatkan bersama tetangga atau anak-anak yatim yang bermukim disekitar rumah Anda. Memberikan makanan ini hanya satu contoh yang dapat kita terapkan dalam hal berbagi rezki kepada sesama umat. Hal ini juga perlu dibiasakan, agar setelah selesai bulan Ramadhan, hal ini tidak punah begitu saja.
  5. Berdakwah
    Jangan sia-siakan momen Ramadhan kali ini. Sepanjang bulan Ramadhan kita punya kesempatan berdakwah karena pastinya suasana Ramadhan sudah sangat terasa dimana-mana dan tiap orang siap menerima nasihat.

    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون
    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-Imran : 104)

    Namun pastikan jika Anda memberi nasihat haruslah ada dalilnya. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa menunjuki kebaikan, baginya pahala sebagaimana orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun.”
  6. Shalat Tarawih & Sholat Witir
    Ibadah sunnah yang khas di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih (qiyamul ramadhan). Dan yang paling penting diingat ialah shalat tarawain dapat dilakukan dirumah sekalipun.Rasulullah saw pernah merasa khawatir karena takut shalat tarawih dianggap menjadi shalat wajib karena semakin hari semakin banyak yang ikut shalat berjamaah di masjid sehingga beliau akhirnya melaksanakan shalat tarawih sendiri di rumah. 
  7. I’tikaf
    Inilah amaliyah ramadhan yang selalu dilakukan Rasulullah saw. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribada kepada Allah swt. Abu Sa’id Al-khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah beri’tikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan paling sering di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.Sayangnya, ibadah ini dianggap berat oleh kebanyakan orang Islam, jadi sedikit yang mengamalkannya. Hal ini dikomentari oleh Imam Az-Zuhri, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan i’tikaf padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat.”  
  8. Lailatul Qadar 
    Ada bulan Ramadhan ada satu malam yang istimewa: lailatul qadar, malam yang penuh berkah. Malam itu nilainya sama dengan seribu bulan. Rasulullah saw. amat menjaga-jaga untuk ibadah meraih lailatul qadar. Maka, Beliau menyuruh kita mencarinya di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
    Kenapa? Karena, “Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar berdasarkan iman dan ihtissab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Begitu kata Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Bahkan, untuk mendapatkan malam penuh berkah itu, Rasulullah saw. mengajarkan kita sebuah doa, “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.” Ya Allah, Engkaulah Pemilik Ampunan dan Engkaulah Maha Pemberi Ampun. Ampunilah aku.
  9. Umrah 
    Jika Anda punya rezeki cukup, pergilah umrah di bulan Ramadhan. Karena, pahalanya berlipat-lipat. Rasulullah SAW. berkata kepada Ummu Sinan, seorang wanita Anshar, agar apabila datang bulan Ramadhan, hendaklah ia melakukan umrah, karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah saw. (HR. Bukhari dan Muslim)
  10. Bertaubat
    Selama bulan Ramadhan, Allah SWT membukakan pintu ampunan bagi seluruh hambanya. Karena itu, bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi kita untuk bertaubat kembali ke fitrah kita.
  11. Zakat Fitrah
    Zakat fitrah wajib dibayarkan sebelum hari Ramadhan berakhir oleh umat Islam, baik lelaki-perempuan, dewasa maupun anak-anak. Tujuannya untuk mensucikan orang yang melaksanakan puasa dan untuk membantu fakir miskin.
    Itulah beberapa amalan ibadah mulia yang diajarkan oleh Nabi besar kita Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan.

Jumat, 27 Mei 2016

Marhaban Ya Ramadhan


 " Marhaban ya Ramadhan berarti "Selamat datang Ramadhan" mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya "mengganggu ketenangan" atau suasana nyaman kita.
Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah SWT

Setelah melakukan kegiatan malam nisfu sya'ban , kemudian ada juga megengan di bulan sya'ban / bulan kedelapan Hijriyah, maka Ramadan merupakan bulan kesembilan dalam kalender Hijriyah, dimana umat muslim melakukan aktivitas seperti puasa, shalat tarawih, peringatan turunnya Alquran,  Lailatul Qadar, serta memperbanyak bacaan Alqur'an,umrah, zakat fitrah dan diakhiri dengan merayakan Idul Fitri .
     Allah menurunkan rahmat-Nya melalui Bulan Ramadhan. Dimana kita dapat mendapatkan pahala, rahmat, hidayah dan ampunan-Nya. Dan Juga merupakan bulan yang melipat gandakan pahala.
Di bulan Ramadhan, kita juga dididik untuk menjaga kesehatan tubuh kita dengan makan secara teratur. Atau kita diajarkan agar dapat mengatur waktu makan, bekerja, istirahat dan ibadah. Jadi, pendidikan itu berhubungan langsung dengan penataan kembali kehidupan kita di segala bidang. Namun hal yang paling berat adalah jihad melawan hawa nafsu sendiri / pengendalian hawa nafsu diri sendiri yang bertujuan untuk menyucikan dan memurnikan nafsu kita untuk kembali semurni-murninya, yaitu dalam keadaan fitri. 

     Bulan Ramadhan kita diwajibkan untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah disamping ibadah wajib seperti sholat sunnat dhuha, rawatib dan tarawih serta tadarusan al-Al-qur’an. Bahkan dalam pengertian yang lebih luas, dimana semua makhluk diciptakan Allah sebagai hambaNya, maka semua aktivitas jasmani dan rohani kita di Bulan Ramadhan dilatih untuk selalu menyatakan kebiasaan-kebiasaan luhur bahwa semua aktivitas kehidupan kita sejatinya adalah ibadah kepadaNya.

Bulan Ramadhan merupakan waktu diturunkannya Al Qur’an sebagai mana disebutkan dalam Alquran :
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.."(Al-Baqarah 2: 185).

     Bulan Ramadhan adalah bulan dimana setan-setan dibelenggu, pintu-pintu Neraka ditutup dan pintu-pintu Surga dibuka sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
”Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”

     Bulan Ramadhan adalah Bulan dimana terdapat malam yang penuh Kemuliaan dan Keberkahan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. ” (QS. Al Qadr: 1-3).


”Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan: 3).
Yang dimaksud malam yang diberkahi di sini adalah malam Lailatul Qadar

     Bulan Ramadhan adalah Bulan dimana salah satu waktu dikabulkannya Do’a. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” 
Dibulan Ramadhan ini, hendaklah kita sebagai umat muslim senantiasa memperbanyak aktivitas / kegiatan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sabtu, 21 Mei 2016

Doa Nisfu Sya'ban


        Rasulullah bersabda : Lima malam yang tidak akan ditolak doa didalamnya, Malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya’ban, Malam Jumat, Malam Idul Fitri dan Malam Idul Adha (H. R. Abu Umamah al Bahili).  Oleh karenanya, disunahkan membaca doa malam nisfu syaban pada malam pertengahan bulan syaban.
     Nisfu Sya’ban berasal dari bahasa arab, kata “nisfu” artinya setengah sedangkan kata "sya’ban" merupakan nama bulan  kalender hijriyah jadi “Nisfu sya’ban” menurut bahasa artinya setengah dari bulan sya’ban.
     Beribadah dimalam Nisfu Sya'ban, bisa dilakukan dengan  membaca surat yasin sebanyak tiga kali atau ibadah lainnya. Sebelum membaca do’a, maka terlebih dahulu membaca surat Ya Sin 3X dengan niat sebagai berikut :

  • Pertama : Memohon Kepada Alloh agar dipanjangkan umurnya untuk melakukan ketaatan beribadah kepada Alloh SWT. Permohonan tersebut diucapkan sesudah membaca surat Ya Sin yang pertama.
  • Kedua : Memohon Kepada Alloh Swt agar mendapat rizki yang banyak dan halal untuk bekal beribadah kepada-Nya. Hal itu diucapkan sesudah membaca surat Ya Sin yang kedua.
  • Ketiga : Memohon kekuatan imannya serta bisa husnul khotimah. Demikian di lakukan sesudah membaca surat Ya Sin yang ke tiga
     Adapun doa untuk malam nisfu sya'ban Arab dan artinya:
اَللّهُمَّ صَلِ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِمْ , اَللّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلاَ يُمَنُّ عَلَيْكَ , يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ يَاذَا الْطَّوْلِ وَاْلإِ نْعَامِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اَنْتَ ظَهَرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَالْمُسْتَجِيْرِ يْنَ وَ أَ مَانَ الْخَا ئِـفِيْنَ , اَللّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَـنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمًا أَوْ مَطْرُوْ دًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِيْ الرِّزْقِ فَا مْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِيْ أُمِّ الْكِتَابِ شَقَا وَ تِيْ وَحِرْمَانِيْ وطَرْدِيْ وَ إِ قْتَارَ رِزْقِيْ وَ أَشْبِتْـنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْ زُوْ قًا مُوَ فَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِ نَّكَ قُلْتَ وَقَوْ لُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَا بِكَ الْمَنَزَّلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ , يَمْحُوْ اللهُ مَايَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَ هُ أُمُّ الْكِتَابِ , إِ لَهِيْ بِالتَّجَلِّى اْلأَ عْظَمِ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِشَعْبَا نَ الْمُكَرَّمِ الَّتِيْ يُفْرَ قُ فِيْهَا كُلُّ أَ مْرٍحَكِيْمٍ وَ يُبْرَمُ إِصْرِفْ عَنِّيْ مِنَ الْبَلاَءِ مَاأَعْلَمُ وَمَالاَ أَعْلَمُ وَمَا أَ نْتَ بِهِ أَعْلَمُ وأَ نْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ , بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرّ َحِمِيْنَ , وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Artinya : “Ya Allah, wahai Dzat yang memiliki anugerah dan engkau tidak diberi anugerah, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat yang memiliki anugerah dan kenikmatan. Tiada Tuhan melainkan Engkau, engkaulah penolong para pengungsi, pelindung orang-orang yang mencari perlindungan dan pemberi keamanan kepada orang-orang yang ketakutan.

Ya Allah, Jika Engkau telah menulis aku disisi Engkau di dalam ummul kitab sebagai orang yang celaka atau terhalang atau tertolak atau sempit dalam rezekiku,maka hapuskanlah.

Ya Allah, dengan anugerah Engkau, dalam ummil kitab celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rezekiku dan tetapkanlah aku di sisi Engkau dalam ummul kitab sebagai orang yang beruntung, memperoleh rezeki dan taufiq dalam melakukan kebajikan. Sesungguhnya Engkau telah berfirman dan firman Engkau adalah benar didalam Kitab Engkau yang telah diturunkan atas lisan Nabi Engkau yang terutus. Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki dan di sisi Allah terdapat ummul kitab.

Wahai Tuhanku, dengan kenyataan yang agung pada malam pertengahan bulan Sya’ban segala perkra yang ditetapkan dibedakan, hapuskanlah dari saya bencana, baik yang saya ketahui dan yang belum saya ketahui. engkaulah yang mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. dengan rahmatmu wahai tuhan yang maha mengasihi. Semoga Allah selalu melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad, atas keluarga dan para sahabat beliau, Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

Semoga kita dapat mengamalkannya " Do'a Nisfu Sya'ban" di Malam Nisfu Sya'ban.

Sabtu, 14 Mei 2016

Jalin Silaturahmi dalam Tradisi Budaya Masyarakat

    

     Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dan hidup dalam tradisi budaya masyarakat warisan leluhurnya. Oleh karena itu, penting bagi setiap manusia, generasi islam untuk menjalin silaturahmi atau silaturahim yang baik dengan orang lain. Jangan kita mengikuti nafsu semata yang berakibat terputusnya tali silaturahmi. Banyak orang yang memutuskan tali silaturahmi/silaturahim sesama muslim. Mereka tidak memikirkan akibat dari memutuskan tali silaturahmi/silaturahim. kita sering mendengar atau melihat sesama saudara sendiri tidak saling menyapa bahkan sampai bertengkar. Mungkin karena sifat egonya tinggi , mereka tidak bersedia  untuk mengalah, meminta maaf terlebih dahulu, sehingga kadang pertengkaran mereka sampai ke anak turunannya.
     Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan berbuat baik pada sesama manusia, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An-Nisa’: 36).
     Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menerangkan bahwa silaturahmi/
silaturahim merupakan pertanda keimanan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bersilaturahmi,” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).
     Apabila  kita dapat menjaga tali persaudaraan maka akan berdampak baik bagi diri kita. Perhatikan hadits berikut, yakni dari Anas r.a., ia berkata, bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda, “Barangsiapa yang menyukai untuk mendapatkan kelapangan rezeki dan panjang umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan dengan saudaranya (silaturahmi).” (HR. Bukhari dan Muslim).
     Mendapatkan kelapangan rezeki dapat dipahami bahwa orang yang suka menjalin silaturahmi itu akan mempunyai banyak teman, kenalan, atau bahkan orang lain yang bisa menjadi dekat seperti saudara. Orang yang senang dalam menjalin silaturahmi akan mempunyai banyak relasi. Ia akan menemukan banyak kemudahan ketika melakukan sebuah usaha. Dengan demikian, rezekinya pun menjadi lapang.Dalam ayat tersebut sudah membuktikan, bahwa apa yang Allah
Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita akan memberikan hikmah bagi kehidupan kita, dan mendapat pahala yang akan di berikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita.
     Dalam kehidupan sosial, banyak cara bagi kita untuk menjalin silaturahmi/
silaturahim, ditengah-tengah kehidupan  masyarakat dengan kultur atau budaya yang berbeda-beda dan beragam.Sebagaimana yang dicontohkan oleh para leluhur kita, dengan melakukan tradisi-tradisi budaya mengumpulkan orang-orang dalam satu kegiatan, sehingga tercipta interaksi antar warga, yang belum kenal menjadi kenal, yang sudah kenal akan lebih mengenal dan akrab, sehingga yang secara tidak langsung menjalin tali silaturahmi/silaturahim.
     Kita, sebagai generasi islam sebaiknya menyikapi dan memahami segala tradisi, budaya leluhur yang ada di masyarakat dengan arif dan bijaksana. Karena didalam kegiatan tersebut, para walisongo, penyebar syiar ajaran islam, telah memasukkan ajaran islam kedalam tradisi budaya masyarakat yang saat itu bertentangan dengan ajaran islam. Banyak moment –moment islam yang bertepatan dengan tradisi atau budaya masyarakatt, seperti acara “Kupatan - Nisfu Sya’ban”, yang pelaksanaannya bertepatan dengan Malam Nisfu Sya’ban, atau moment-moment keislaman lainnya. Dengan toleransi, kita bisa menjalin tali silaturahmi/
silaturahim dengan masyarakat sekitar melalui tradisi budaya yang telah diwariskan oleh leluhur .