Kamis, 12 Mei 2016

Uniknya Kupatan, Utamanya Malam Nisfu Sya'ban


Bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadan.Tradisi bagi masyarakat yang tinggal di kampung atau pedesaan, memperingati malam nisfu syaban atau pertengahan bulan syaban atau tanggal 15 bulan kedelapan (bulan sya’ban) dalam kalender Islam dengan tradisi kupatan atau ketupat.
     Dari beberapa sumber mengatakan bahwa tradisi "kupatan"  ini sudah ada pada zaman pra Islam. Namun setelah kehadiran Wali Songo, budaya ini tetap dijaga dan disatukan (akulturasi) dengan sentuhan budaya islami agar dapat diterima masyarakat pada saat dakwah Islam/syiar Islam.  Dalam bahasa Jawa, ketupat disebut kupat . Kata kupat berasal dari suku kata Ku = ngaku (mengakui) dan pat = lepat (kesalahan) . Sehingga ketupat menjadi simbol mengakui kesalahannya. Alangkah indahnya, jika kita sebagai mahluk Allah senantiasa ikhlas mengakui segala kesalahan atas perbuatan atau tindakan baik disengaja maupun tidak disengaja, karena manusia itu tak luput dari lupa dan kesalahan dan segera memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
     Karena adanya Keutamaan,Kemuliaan,Keistimewaan Bulan Sya'ban dan Malam Nisfu Sya'ban, maka seyogyanya sebagai umat Islam sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, shalat sunnah, memperbanyak bacaan zikir, memperbanyak baca'an shalawat, membaca al-Qur’an, bersedekah, berdo’a dan mengerjakan amal-amal soleh lainnya.
Adapun salah satu cara untuk memperingati malam nisfu sya’ban, dengan pembacaan surah yasin 3 x  dengan rincian sebagai berikut:

  1. Pembacaan Surah Yasin yang pertama kemudian dilanjutkan dengan membaca Do’a Nisfu Sya’ban. Dalam Do’a yang pertama ini dilakukan dengan niat meminta umur panjang
  2. Pembacaan Surah Yasin yang kedua kemudian dilanjutkan dengan membaca Do’a Nisfu Sya’ban yang kedua. Dalam Do’a yang kedua ini dilakukan dengan niat meminta rezeki yang banyak, halal dan manfaat.
  3.  Pembacaan Surah Yasin yang ketiga kemudian dilanjutkan dengan membaca Do’a Nisfu Sya’ban yang ketiga. Dalam Do’a yang ketiga  ini dilakukan dengan niat agar ditetapkan iman dalam Islam.
Setelah pembacaan Do’a Malam Nisfu Sya'ban selesai dilanjutkan dengan acara ramah-tamah, bersedekah/berbagi rizqi, kupat dimakan bersama-sama secara acak (bukan miliknya sendiri).
Dari paparan diatas, pesan yang dapat diambil dari perayaan Nisfu Sya’ban dalam masyarakat ini yakni:

  • Do’a agar diberikan umur yang panjang. Semua yang hadir dalam peringatan Nisfu Sya’ban berniat agar diberikan umur yang panjang sehingga semua yang hadir pada saat itu akan bertemu kembali pada bulan Nisfu Sya’ban  berikut bahkan semua yang hadir pada saat itu saling mendoakan.
  • Do’a agar diberikan rezeki yang banyak, halal dan manfaatDengan harapan meminta reseki yang banyak bukan saja banyaknya rezeki, akan tetapi juga rezeki yang akan didapatkan nanti adalah halal dan bermanfaat baik untuk diri sendiri, keluarga maupun masyarakat lainnya.
  • Do’a agar diberikan ketetapan Iman, maksudnya dalam Do’a ini agar semua masyarakat yang hadir dalam perayaan Nisfu Sya’ban ini ditetapkan Imannya oleh Allah SWT agar tetap dalam Iman Islam, baik aqidah, sifat maupun tindak-tanduknya tetap dalam Islam.
     Sebagaimana diketahui, sampai saat ini sebagian masyarakat masih melestarikan tradisi budaya kupatan dengan sentuhan ajaran Islam di malam nisfu sya’ban, dengan banyaknya warga yang berkumpul dan bersedekah dengan makanan / ketupat satu sama lain,maka akan  terjalin silaturahmi yang baik antar warga. Belum lagi bila dilakukan ditempat-tempat ibadah, baik itu musholla atau masjid, mereka membawa uang untuk di-infaq-kan atau infaq nisfu sya'ban.

Selain kupatan, dibulan sya'ban ini ada lagi tradisi budaya masyarakat, yang namanya " Megengan" dilaksanakan satu minggu sebelum bulan Ramadhan, yang istilah lain pembekalan memasuki bulan Puasa / Ramadhan. Unik dan Kaya akan Ragam Budaya Nusantara Indonesia yang merupakan paduan makna simbol budaya dengan sentuhan ajaran Islam sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat rizqi dari Allah Subhanahu wa Ta'ala..
Bahagia dan rasa syukur yang sebesar-besarnya atas karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala karena senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sebagai hamba-Nya.

Rabu, 11 Mei 2016

Indahnya Tradisi Megengan


Dibulan Sya'ban, selain kupatan di malam nisfu sya'ban, ada juga tradisi “Megengan” merupakan tradisi budaya turun temurun yang masih di pelihara dengan baik dan terus dilestarikan  oleh masyarakat Jawa sebagai  suatu bentuk implementasi / ucapan syukur  atas nikmat rizqi yang diterima kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana para walisongo mengajarkan Islam melalui simbol-simbol tradisi budaya masyarakat, tapi sangat disesalkan jika pelajaran yang diambil oleh masyarakat Islam hanyalah simbolnya belaka, padahal harusnya masyarakat Islam mampu memaknai  tidak hanya simbolnya saja  tetapi juga substansinya , karena  sesungguhnya ada pesan moral yang sangat mendasar  yang terkandung dalam simbol tersebut, salah satu contohnya  Tradisi “Megengan”.
     Tradisi “Megengan”  ini dipekenalkan pada saat penyebaran agama Islam di Jawa (terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian selatan) oleh Sunan Kalijaga. Sebagaimana  kita ketahui,  Sunan Kalijaga berdakwah pada masyarakat Jawa dengan metode akulturasi budaya. Kanjeng Sunan menggunakan metode pendekatan psikologi budaya kepada masyarakat Jawa  sehingga menghapus pembatas yang dapat menganggu syiar Islam. Masyarakat Jawa memiliki ikatan tradisi budaya yang sangat kuat dan terjaganya rasa hormat terhadap orang yang lebih tua, sesepuh masyarakat, pemuka masyarakat terutama agama, namun akan sangat sulit bagi mereka  apabila diharuskan meninggalkan budaya yang telah lama mengikat diri mereka  secara turun temurun dengan sebuah aturan-aturan baru ( ajaran Islam).
     Tradisi megengan biasanya berlangsung seminggu sebelum Puasa. Tradisi ini dilaksanakan dengan cara mengirim makanan kepada keluarga dan tetangga. Jenis makanannya bisa beraneka ragam seperti : Nasi tumpeng, iwak ingkung, keper, thontho, gereh pethek, tempe, ketan, kolak, atau  apem. Tradisi megengan ini ternyata tidak hanya menjaga hubungan sosial tetapi juga turut memutar roda perekonomian. Kebutuhan masyarakat akan bahan makanan untuk “Megengan” ini, mengharuskan mereka untuk berbelanja ke pasar.
Kata Megengan berasal dari bahasa Jawa “ Megeng” yang berarti Ngeker atau Menahan, Misalnya dalam ungkapan megeng nafas, artinya menahan nafas, megeng hawa nafsu artinya menahan hawa nafsu dan sebagainya. Dari kata “Megeng” Menjadi kata “Megengan” , dengan ditambah akhiran “-an” mengandung arti Suatu Proses Kontinuitas (terus – menerus) dan juga pembentukan kata benda. Dikaitkan dengan konteks Ramadahan, kata “Megeng” selaras dengan kata Shaum yakni Puasa, yang  berarti menahan.
     Secara Fiqih, Shaum atau Puasa diartikan sebagai Proses Menahan (megeng atau ngeker) diri atau hawa nafsu dari yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan hal – hal yang membangkitkan Syahwat, serta hal – hal yang dapat membatalkannya. Maka secara Simbolik, Tradisi Megengan merupakan acara pembekalan untuk berpuasa serta sebagai tanda atau symbol  bahwa manusia akan memasuki bulan puasa sehingga harus menahan hawa nafsu, baik yang terkait dengan makan, minum, dan hal – hal yang membangkitkan Syahwat, serta hal – hal yang dapat membatalkannya. Dalam kegiatan tersebut, juga dimaksudkan untuk berdo’a memohon pertolongan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, agar diberikan kekuatan untuk melakukan Ibadah puasa, karena tanpa pertolonganNya, puasa dirasakan sebagai sesuatu yang amat berat.
     Puasa tidak hanya menahan diri dari yang membatalkannya secara dhahir saja, yakni makan dan minum, melainkan juga hal – hal yang bathiniah. Puasa tidak hanya menahan hal – hal yang membatalkannya saja, tetapi juga menahan kebiasaan – kebiasaan buruk setiap hari yang bersifat bathiniah dan ukhrowiyyah. Puasa lebih bersifat latihan rasa yang mencakup dimensi bathiniah, tidak heran dalam ungkapan jawa ada yang mengatakan Poso berarti ngempet roso, ada juga yang mengartikan ngeposke roso mempunyai makna memberhentikan rasa. Inilah yang harusnya tersampaikan dalam Tradisi “Megengan” tersebut.
     Ada lagi simbol yang khas dalam tradisi ini, yaitu Kue Apem. Boleh diterima, boleh menolaknya , karena memang ini hanyalah tradisi. Sebelum puasa ada anjuran untuk kaum muslimin agar saling memaafkan  sesamanya, sehingga puasanya bisa tenang dan berkah karena telah tak ada lagi ganjalan  dari rasa bersalah dan berdosa kepada orang lain. Karena dalam sebuah hadits, diceritakan bahwa “ Rasulullah Muhammad SAW mengamini tiga doa yang diberikan oleh malaikat Jibril. Yang pertama: Ya Allah, janganlah Engkau terima puasanya seorang anak yang durhaka pada orang tuanya; Yang kedua: Ya Allah janganlah Engkau terima puasanya seorang istri yang dholim kepada suaminya; Yang ketiga: Ya Allah janganlah Engkau terima puasanya seseorang yang jahat kepada tetangganya.”
     Dalam bahasa arab, Kata “Afwun” bermakna ampunan, maaf atau memaafkan. Maksudnya adalah kita diingatkan pada bulan Sya’ban menjelang bulan Ramadhan, agar kita saling memaafkan dan meminta ampunan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aala, sehingga kita bisa menjalankan Ibadah puasa dengan tenang. Dan dikarenakan dalam Bahasa Jawa tidak mengenal huruf “F”, Maka kata “Afwun” berubah “Apwun” , kemudian Apwum, lalu Apwem, dan akhirnya Apem, dan insyaAllah, inilah yang  menginspirasi adanya kue apem dalam megengan.
     Dilihat dari bahan dasarnya, kue apem melambangkan kebersihan dan kesucian. Beras putih, berwarna putih melambangkan kesucian. Santan merupakan sari buah kelapa yang bermanfaat semua bagiannya adalah melambangkan sari atau ketulusan manusia, bahkan ada juga yang mengartikan “Santen” sebagai akronim dari kata jawa”Sagetho Nyuwun Pengapunten”.. Gula dan garam melambangkan perasaan hati. Daun yang dibentuk kerucut melambangkan pengerucutan semua pada satu titik, Yakni Allah Subhaanahu Wa Ta’aala. Maka bila bahan – bahan tersebut dijadikan satu, Makna Simbolisnya adalah Kesucian dan ketulusan perasaan hati manusia yang ikhlas karena Allah semata. 

Sungguh indah ungkapan rasa syukur nikmat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat rizqi yang dikaruniakan kepada hambaNya , yang telah dicontohkan dengan tradisi budaya secara turun temurun oleh para leluhur kita.
MARHABAN YA RAMADHAN

Selasa, 10 Mei 2016

Baiknya Anak Soleh atau Sholehah

Anak merupakan titipan atau amanah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita sebagai hambaNya.Allah percaya kepada kita, orangtua akan mampu menjaga dan mendidik anak menjadi Ihsan Al-Kamil, anak sholeh atau sholehah, yang akan menjadi khalifah di bumi untuk selalu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Baiknya anak sholeh yang identik dengan anak laki-laki atau anak sholehah yang identik dengan anak perempuan sungguh akan bermanfaat bagi dirinya dan orang tuanya . Anak sholeh atau sholehah akan terus mendoakan orang tuanya. Amalan sholehnya akan bermanfaat untuk orang tuanya, meski tidak ia niatkan untuk kirim pahala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِى صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

“Sesungguhnya yang akan selalu menemani orang beriman adalah ilmu dan kebaikannya. Setelah matinya ada ilmu yang ia ajarkan dan ia sebarkan, begitu pula anak sholeh yang ia tinggalkan, juga ada di situ mushaf yang ia wariskan atau masjid yang ia bangun, atau rumah untuk ibnus sabil yang ia bangun, atau sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia sehat dan semasa hidupnya. Itu semua akan menemaninya setelah matinya.” (HR. Ibnu Majah )

Adapun sisi pendalilan bahwa amalan anak yang sholeh / sholehah akan bermanfaat untuk orang tuanya adalah dari ayat,

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm: 39). Di antara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang sholeh atau sholehah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ

“Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” (HR. Abu Daud  dan An Nasa’i ). Ini berarti amalan dari anaknya yang sholeh atau sholehah masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.

Dari sekelumit ulasan kebaikan anak sholeh atau sholehah, maka sungguh besar harapan orang tua bisa mewujudkan generasi-generasi Islam Al-Kamil, Insan Al-Kamil atau Ihsan Al-Kamil, yang mampu mempelajari Islam secara Kaffah , dan sesuai Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam

Minggu, 08 Mei 2016

Beda Masjid dan Musholla, Apakah Disunahkan Shalat Tahiyyatul Masjid di Musholla?

Setiap tempat di permukaan bumi yang seorang sah sholat di atasnya teranggap sebagai masjid. Nabi shallallahu ‘alahi wasallam  bersabda:


وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا


“Bumi ini dijadikan untukku sebagai masjid dan tempat yang suci” [HR. Al-Bukhari]
Masjid  adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, yaitu tempat yang diwakafkan dan disediakan khusus untuk sholat. 
Musholla adalah tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa tanpa disyaratkan wakaf. 
Setiap tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa baik statusnya wakaf atau bukan disebut musholla. 
Oleh karena itu, musholla mencakup masjid dan selainnya. Setiap masjid adalah musholla dan tidak setiap musholla adalah masjid. 


Begitu juga dengan Musholla Al-Kamil, yang bangunannya diatas  tanah wakaf (sertifikat) ,Apakah disunahkan Sholat Tahyyatul Masjid  di musholla?
Untuk mengetahui secara mendalam perbedaan musholla dan masjid, link artikel dibawah ini dapat memberi pencerahan secara fiqih  :

Rabu, 04 Mei 2016

Amanah



“Empat perkara yang harus dimiliki oleh seseorang, maka engkau tidak akan kehilangan dunia seisinya yakni; Menjaga Amanah, Jujur dalam berbicara, Berbudi pekerti, dan senantiasa menjaga Kesucian”. (HR Ahmad)
Amanah yang artinya dapat dipercaya. Secara bahasa, amanah  dapat diartikan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Amanah juga berarti titipan (al-wadî‘ah)

“ Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi “ (QS. Al Baqarah :284)
Allah adalah pemilik segalanya. Alam semesta ini dan segala isinya adalah kepunyaanNya. Segala yang ada di langit (angkasa) seperti matahari, bintang-bintang dan planet-planet adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu juga dengan bumi ini dan segala isinya, semuanya adalah milik Allah.
Begitu juga kita manusia. Manusia terdiri dari dua bagian yaitu jasad dan ruh.  Jasad dan ruh ini merupakan milik Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diamanahkan (titipkan) kepada kita.


Bagi diri kita (jasad dan ruh) yang Allah titipkan / amanahkan  ini, Allah memerintahkan kita untuk menjaganya dengan cara diantaranya :
  • Memberikan makan yang halal (halal dan thoyib)
  • Merawatnya dengan selalu dalam keadaan suci bersih dengan mandi dan berwudhu.
  • Mengisi ruh ini dengan ilmu yang bermanfaat, taat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi segala larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala
‘Orang yang amanah’ diartikan dengan ‘orang yang dapat dipercaya’ atau orang yang kreddibel
Nabi Muhammad SAW sebelum mendapat tugas menyampaikan Al Quran diberi gelar oleh orang-orang dengan sebutan Al Amin (orang yang dapat dipercaya).
“Laksanakanlah amanat bagi orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat bagi orang-orang yang menghianatimu (Abu Dawud, Tarmizi 1, Ahmad).
 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampai kan amanat kepada yang berhak menerimanya (QS. An-Nisa :58).

“Orang mukmin adalah orang yang dapat menjaga kedamaian orang lain, baik darah maupun hartanya (HR Tarnizi , Ibnu Majah). “Tidaklah dikatakan beriman bagi orang yang tidak mempunyai rasa amanah dan tidak Islam bagi orang yang tidak menepati janji” (HR Ahmad). Artinya seorang muslim harus mampu menjaga nyawa dan harta orang lain yang dititipkan kepadanya.
“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya / amanah” (QS. Al Qasas:26).
“Jika amanah itu telah hilang maka tunggulah tibanya kiamat”. Bagaimana hilangnya ya Rasul? : “Jika suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat /kehancuran-nya” ( HR Bukhari).
Sifat amanah (dapat dipercaya) adalah sifat yang sangat diharapkan dari seorang muslim, artinya untuk menjadi muslim yang baik kita semua harus mampu memegang kepercayaan, sifat ini merupakan salah satu sifat yang di contohkan oleh rasullullah sebagai insan kamil yang ihsan kamil yang sudah seharusnya kita belajar kepada beliau .

Manfaat memegang Amanah :
1. Tidak kehilangan nikmat di dunia. “Empat perkara yang harus dimiliki oleh seseorang, maka engkau tidak akan kehilangan dunia seisinya yakni; Menjaga Amanah, Jujur dalam berbicara, Berbudi pekerti, dan senantiasa menjaga Kesucian”. (HR Ahmad)
2. Jaminan masuk surga. “Enam perkara yang dapat menjamin kalian masuk surga yaitu ; Jujurlah jika berbicara, Tepatilah jika berjanji, Laksanakanlah amanah jika kalian dipercaya, Jagalah kemaluanmu, jagalah pandanganmu, dan tahanlah tanganmu”. (HR, Ahmad)
Demikian juga bagi amanah-amanah lain seperti keluarga (orang tua, anak, dsb), teman/lingkungan, dan sebagainya, ada aturan-aturan dari Allah untuk menjaga semua milikNya yang diamanahkan kepada kita.